Minggu, 14 Juni 2015

Ayat Pertama Surat Al Faatihah

          Al-Fatihah memiliki banyak nama, Diantaranya yang cukup populer adalah Ummul Qur’an, Al Asas, Sab’ul Matsani. Ummul Qur’an arti harfiahnya adalah induk Al Qur’an. Dalam konteks ini lebih tepat diartikan dengan intisari Al Qur’an, karena dalam surat tersebut tercakup seluruh persoalan pokok yang disoroti Al Qur’an, yaitu aqidah (keyakinan), syariah (tata peribadatan), dan Al Qashash (riwayat).
          Al Asas artinya dasar atau fondasi. Disebut demikian karna Al Qur’an merupakan fondasi atau pijakan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sab’ul Matsani artinya tujuh ayat yang selalu diulang. Dikatakan demikian , karena Al Faatihah merupakan surat yang harus selalu dibaca setiap rakaat shalat. 
            Bismillaah statusnya sebagai ayat pertama dari surat Al Fatihah, sedangkan dalam surat lainnya ia sebagai pembatas antarsurat, Karenanya, dalam surat Al Faatihah, Bis millaah diberi tanda nomor satu sedangkan di luar surat Al Fatihah, Bismillah tidak pernah diberi tanda nomor. Konsekuensinya, Bismillaah harus dibaca ketika membaca Al Faatihah dalam shalat.
Ada dua cara membaca Bismillaah saat shalat , jahar dan sirr. Jahar artinya bacaan terdengar atau dikeraskan. Sedangkan sirr artinya tidak terdengar atau tidak dikeraskan. Jika kita shalat berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi Bismillah dibaca dengan sirr.

                Imam An-Nasai, Ibnu khuzaimah, ibnu hibban, dan imam Hakim meriwayatkan hadits berikut, “Abu hurairah r.a. shalat dengan mengeraskan bacaan Bismillah. Selesai shalat ia berkata, “Sesungguhnya shalatku sangat menyerupai shalat Rasulullah saw.”
Namun, dalam hadis lain disebutkan, “Anas berkata, ‘Saya pernah shalat dibelakang Rasulullah , Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka memulai bacaanya dengan Alhadulillah.”(THR Bukhari-Muslim).
Sepintas, kedua hadis tersebut saling kontradiktif. Namun kalau dicermati dengan jeli, kedua hadis tersebut sebetulnya saling melengkapi, boleh dikeraskan dan boleh juga tidak. Jadi, kita boleh memilih cara yang paling dikehendaki.

Secara gramatikal, bismillah sesungguhnya kalimat yang membutuhkan penyempurnaan. Coba perhatikan terjemahannya, Dengan Menyebut Nama Allah... dst. Bandingkan dengan contoh berikut. “Dengan pisau”. Apa yang dengan pisau? Supaya sempurna, kita tambahkan kalimat “saya menyembelih ayam dengan pisau”.
         Jika demikian, apa kalimat penyempurna dari Bismillah? Perbuatan kitalah penyempurnanya. Misalnya kita membaca Bismillah ketika memulai makan. Berarti kita berkata, “Saya makan dengan menyebut nama Allah.” Kalimat ini menjadi sempurna. Contoh lain, saat akan menulis, kita membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, ini maknanya sama dengan, “Saya menulis dengan menyebut nama Allah.” Saat kita menggerakkan tangan mengambil secangkir teh lalu meneguknya, sesunguhnya Allah memberikan pertolongan kepada kita untuk melakukan hal itu. Tanpa kasih sayang-Nya , tidak mungkin bisa dilakukan.Allah berkuasa melumpuhkan tangan kita hingga tidak bisa terbuka. Kita bisa melakukan itu semua karena rahman dan rahim-Nya. Di sinilah urgensi ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim dalam seluruh perbuatan kita.
Bismillahirrahmaanirrahiim

        Agar seluruh aktivitas keseharian kita bernilai ibadah, Rasulullah saw. Menganjurkan untuk memulai seluruh perbuatan baik dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim , sebagaimana sabdanya,
“setiap urusan perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim maka cacat 9terputus dari rahmat Allah).” (THR Ahmad dan Ashhab Sunan).
Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim, berarti kita menyadari akan kekuatan dan pertolongan Allah swt, dalam segala aktivitas yang kita kerjakan.


0 komentar: